Reditum

Pars Quinta · Liber V

Hellas Roma

Δαίμονες · Genii · Furiae · Lamiae · Discordia

Dalam dunia Yunani-Romawi, batas antara dewa, roh, dan iblis jauh lebih kabur dari tradisi Abrahamic. Daimones (Yunani) atau Genii (Latin) adalah perantara antara dewa-dewi Olympia dan manusia — sebagian melindungi, sebagian merusak, sebagian sekadar mendiami sungai dan hutan. Sembilan entitas di bawah ini dipilih dari yang paling kuat secara mitologis dan paling tahan-lama dalam imajinasi Mediterranean — banyak yang masih bergema dalam sastra modern (Keats menulis Lamia; T.S. Eliot mengutip Erinyes; Discordia menjadi simbol kontra-kultur abad 20).

VIIIAbad sumber
IXEntitas tercatat
IIPeradaban
Descende

Daimones — Roh Perantara

Sebelum kita beralih ke wujud-wujud spesifik, satu konsep fundamental: δαίμων (daimōn) — yang dari kata inilah istilah "demon" modern lahir. Dalam pemikiran Yunani klasik, daimones bukan entitas jahat; mereka adalah roh-roh perantara antara dunia ilahi dan dunia manusia. Plato dalam Symposium (202d-203a) menjelaskan bahwa daimones "berada di antara dewa dan manusia, mengantarkan permohonan kepada dewa dan jawaban kepada manusia." Setiap orang punya daimōn pribadinya — Socrates terkenal dengan "daimonion"-nya, suara batin yang melarangnya melakukan kesalahan.

Running winged daimon — Attic black-figure lip-cup, Rhodos AM 12984
Daimōn bersayap — Attic black-figure, Rhodos AM 12984

Hesiodos dalam Erga kai Hēmerai (Works and Days, baris 121-126) menulis bahwa roh-roh manusia dari Zaman Emas — setelah mereka mati — "menjadi daimones, penjaga manusia fana, pemberi kekayaan." Roh dewa-pelindung. Inilah daimones yang baik (agathodaimones, "daimon-baik") — dipasangkan dengan kakodaimones (daimon-jahat) sebagai oposisi.

Pergeseran arti datang dari penerjemahan: ketika Septuaginta (terjemahan Yahudi-Yunani dari Tanakh, abad III-II SM) menerjemahkan kata Ibrani shedim sebagai daimonia, dan kemudian Perjanjian Baru menggunakan istilah yang sama untuk roh-roh-jahat yang Yesus usir — istilah daimōn mulai bergeser dari "perantara" ke "iblis murni". Augustinus dalam De Civitate Dei Buku IX-X akhirnya menyegel pergeseran ini: untuk Augustinus, semua daimones tradisi Yunani adalah iblis, dan yang "baik" hanyalah malaikat Kristen. Sebuah kata yang dulu netral, dalam dua abad menjadi nama untuk yang ditakuti.

Tetapi sebelum penyempitan Kristen ini, dunia Yunani-Romawi menyimpan taksonomi yang kaya — para roh dengan domain spesifik, baik yang menggoda, mencuri bayi, atau membalas kejahatan. Berikut adalah delapan yang paling ditakuti.

Lamia — John William Waterhouse, 1905
Lamia — J. W. Waterhouse, 1905

I · Λάμια / Lamia

Lamia

Mater Liberorum Edentium — Pencuri & Pemakan Anak

"παῖδας ἥρπαζεν καὶ κατήσθιεν" — "Ia menculik anak-anak dan memakan mereka." (Diodorus Siculus, Bibliotheca Historica XX.41)
Asal
Ratu Libya yang dicintai Zeus. Hera, cemburu, membunuh anak-anaknya satu per satu. Lamia, gila karena duka, mulai menculik dan memakan anak-anak orang lain — dan akhirnya berubah menjadi monster.
Wujud
Bertubuh perempuan dari pinggang ke atas, tetapi berakhir di tubuh ular dari pinggang ke bawah. Dapat melepaskan matanya untuk tidur (Zeus mengizinkannya karena duka), kemudian memasangnya kembali. Dapat berubah-rupa.
Domain
Menculik bayi dan anak kecil di malam hari. Beberapa tradisi: menyusu darah laki-laki muda yang dikecewakan dalam cinta. Bersemayam di gua-gua Libya.
Padanan
Latin: lamia (jamak: lamiae) — Horatius menggunakan kata ini dalam Ars Poetica sebagai contoh makhluk-tak-mungkin yang seharusnya tidak dimasukkan dalam puisi. Yahudi: paralel dengan Lilith — keduanya perempuan yang kehilangan anak dan menjadi pencuri bayi.

Lamia adalah salah satu monster Yunani dengan kisah asal yang manusiawi — bukan kelahiran-kosmik atau ciptaan Tartarus, melainkan pengkhianatan dan duka yang membuat seorang manusia kehilangan kemanusiaannya. Ia adalah tragedi yang menjadi monster. Dalam abad ke-19, John Keats menyimpan kembali narasinya dalam puisi Lamia (1819), kemudian Pre-Raphaelite seperti Waterhouse dan Draper menjadikannya subjek lukisan yang ambigu: pencinta atau pemangsa? Dalam lukisan Waterhouse (sebelah), Lamia tampil sebagai perempuan cantik yang sedang menyerap ksatria — moment sebelum sang ksatria menyadari ia bukan manusia. Waterhouse tahu bahwa monster yang paling efektif bukan yang berwujud menakutkan, tetapi yang tampak seperti kita. Filsuf abad-21 Mark Fisher menyebut ini "the eerie" — yang menyeramkan bukan karena asing, tetapi karena nyaris-tetapi-bukan seperti yang kita kenal.

Orestes Pursued by the Furies — William-Adolphe Bouguereau, 1862
Orestes Dikejar Furies — W.A. Bouguereau, 1862

II · Ἐρινύες / Furiae

Erinyes

Tres Ultrices — Tiga Pembalas Kejahatan Darah

"αἷμα μητρῷον... χθονοτρόφος αἷμα" — "Darah ibu... darah yang menyusu pada bumi" — yang dikejar oleh Erinyes (Aischylos, Eumenides 270-271).
Tiga Pribadi
Alecto (Ἀληκτώ — "tak-berhenti"), Megaera (Μέγαιρα — "pencemburu"), Tisiphone (Τισιφόνη — "pembalas-pembunuhan"). Lahir dari darah Ouranos yang menetes ke bumi setelah pengebirian (Hesiodos, Theogonia 185).
Wujud
Perempuan-perempuan menyeramkan dengan rambut berupa ular hidup, mata mengeluarkan darah, sayap kelelawar. Membawa cambuk berduri perunggu. Bouguereau (sebelah) menggambarkan mereka pada momen mengerikan: Orestes tak bisa lari dari mata mereka yang menatap tajam.
Domain
Pembalas kejahatan-darah, khususnya: pembunuhan keluarga sendiri, pelanggaran sumpah, ketidaksantunan terhadap tamu. Mereka tidak bisa diampuni — mengejar pelaku sampai mati atau menjadi gila.
Padanan Roma
Furiae atau Dirae. Vergilius memberi mereka peran besar dalam Aeneis Buku VII — Alecto turun ke Italia untuk membakar perang. Romawi juga menyebut mereka Eumenides ("Yang Berhati-Baik") sebagai eufemisme — sebut nama sebenarnya bisa menarik mereka.

Erinyes adalah salah satu kontribusi paling mendalam tradisi Yunani terhadap konsep keadilan: mereka adalah institusi pra-hukum — sebelum pengadilan, sebelum negara, sebelum hakim, sudah ada Erinyes yang mengejar pembunuh keluarga sendiri. Trilogi Oresteia Aischylos (458 SM) menceritakan transisi historis: Orestes membunuh ibunya Klitemnestra untuk membalas pembunuhan ayahnya Agamemnon. Erinyes mengejarnya. Pada akhirnya, dewi Athena mendirikan pengadilan pertama di Atena (Areopagus) untuk memutuskan kasus tersebut — dan Erinyes, alih-alih marah, diubah menjadi Eumenides, "yang berhati baik", yang ditugasi melindungi kota. Aischylos memberi kita mitos tentang bagaimana balas-dendam kuno menjadi keadilan negara. Tetapi Erinyes tidak hilang sepenuhnya: dalam imajinasi modern mereka bertahan sebagai conscience — suara batin yang tidak bisa diam ketika kita melukai keluarga. T.S. Eliot dalam The Family Reunion (1939) menggunakan Erinyes sebagai metafora rasa-bersalah keluarga yang menurun dari generasi ke generasi. Suara mereka tidak pernah berhenti, hanya berubah bahasa.

Golden Apple of Discord — Jacob Jordaens
Apel Emas Perselisihan — J. Jordaens, abad XVII

III · Ἔρις / Discordia

Eris

Dea Discordiæ — Dewi Perselisihan, Saudara Kembar Perang

"τῇ καλλίστῃ" — "Untuk yang tercantik" — tulisan di atas Apel Emas yang Eris lemparkan ke pesta pernikahan Peleus & Thetis.
Silsilah
Putri Nyx (Malam). Saudara kembar Ares (Perang) dalam beberapa tradisi. Ibu sepuluh anak iblis: Ponos (Kerja keras), Lethe (Lupa), Limos (Kelaparan), Algea (Penyakit), Hysminai (Pertempuran), Machai (Perang), Phonoi (Pembunuhan), Androktasiai (Pembantaian Manusia), Neikea (Pertengkaran), dan Pseudologoi (Kebohongan).
Mitos Utama
Pesta pernikahan Peleus & Thetis (orang tua Achilles). Eris tidak diundang. Sebagai balasan, ia melemparkan apel emas berbahasa "untuk yang tercantik" ke tengah pesta. Hera, Athena, dan Aphrodite memperebutkannya. Paris dipanggil sebagai juri, memilih Aphrodite (yang menjanjikan Helena untuknya) — dan inilah api yang memicu Perang Trojan.
Wujud
Perempuan bertubuh kecil pada awalnya, tetapi membesar tanpa batas ketika perselisihan tumbuh — kepala menyentuh langit, kaki tetap di bumi (Ilias IV.442-443). Sayap berdebu, jubah robek.
Padanan Roma
Discordia. Vergilius memberinya peran kunci dalam Aeneis sebagai pemicu perang sipil.

Eris menarik karena ia bukan iblis pasif yang menanti dipanggil — ia aktif menyusup ke peristiwa-peristiwa baik dan menanam benih ketidakharmonisan. Hesiodos dalam Erga kai Hēmerai 11-26 memberi kita observasi yang menarik: ada dua Eris. Yang satu jahat — perselisihan yang menghasilkan perang dan pembantaian. Yang lain baik — kompetisi sehat yang mendorong manusia bekerja lebih giat ("tetangga melihat tetangganya bekerja keras, lalu ia sendiri bekerja keras pula"). Dua Eris ini, kata Hesiodos, adalah putri Nyx yang berbeda. Dalam imajinasi modern, sayangnya, hanya yang jahat yang tersisa. Yang menarik: pada abad ke-20, gerakan kontra-kultur Discordianisme (1963, Greg Hill & Kerry Thornley) menghidupkan kembali Eris sebagai dewi chaos-magic. Kata "Hail Eris!" menjadi salam-jenaka di sub-kultur Amerika. Salah satu dewi paling tua dalam Yunani — diabadikan oleh Hesiodos pada abad ke-8 SM — kembali populer 28 abad kemudian sebagai simbol perlawanan terhadap dogma. Eris akhirnya menemukan caranya melempar apel ke pesta lain.

Mask of Phobos — mosaic from Halicarnassus, 4th century AD
Topeng Phobos — Mosaik Halicarnassus, abad IV M

IV · Φόβος καὶ Δεῖμος / Pavor et Pallor

Phobos & Deimos

Personifikasi Ketakutan dan Kengerian — Putra-Putra Ares

"Φόβον ὃν Ἄρης τίκτεν τε φέρει τε" — "Phobos, yang dilahirkan Ares dan dibawanya bersama" (Hesiodos, Theogonia 934).
Silsilah
Putra-putra Ares (Perang) dengan Aphrodite (Cinta) — kelahiran yang ironis. Phobos (Φόβος) berarti "ketakutan" atau "lari kalah"; Deimos (Δεῖμος) berarti "kengerian" atau "teror".
Wujud
Pemuda-pemuda atau anak-anak yang muncul di sebelah kereta Ares di medan perang. Wajah mereka — secara harfiah — menyebabkan rasa takut pada yang melihatnya. Phobos kadang digambar berkepala singa; Deimos lebih ke wajah-manusia tetapi membatu.
Domain
Bukan menyebabkan ketakutan dari luar (seperti Erinyes yang mengejar bersalah), tetapi menyebabkan ketakutan dari dalam — momen di mana keberanian seorang prajurit hancur dan ia berbalik lari. Phobos: takut sadar & lari; Deimos: kengerian beku, tak bisa bergerak.
Padanan Roma & Lain
Roma: Pavor (rasa-takut) dan Pallor (pucat). Astronomi: dua bulan Mars yang ditemukan 1877 oleh Asaph Hall dinamai Phobos & Deimos — tetap menemani ayahnya Mars/Ares hingga ke ruang angkasa.

Phobos & Deimos adalah salah satu kontribusi paling tahan-lama tradisi Yunani terhadap psikologi modern: kata fobia diambil langsung dari nama Phobos. Setiap kali kita mengatakan arachnofobia, klaustrofobia, aerofobia — kita sedang memanggil nama dewa Yunani kecil yang lahir dari Mars dan Venus. Mosaik Halicarnassus (sebelah, abad IV M, kini di British Museum) menampilkan topeng Phobos: wajah laki-laki dengan mulut terbuka, dikelilingi pancaran sinar — desain yang dimaksudkan untuk dipajang di pintu masuk rumah-Romawi sebagai apotropaic, jimat yang menghalau roh jahat dengan cara membuat mereka takut duluan. Strategi yang sama dengan Bes di Mesir dan Pazuzu di Mesopotamia: lawan rasa-takut dengan rasa-takut. Aspek menarik lain: Phobos & Deimos sering hadir bersama Eris (Pertikaian) di pertempuran. Hesiodos menyebut mereka membawa "perisai Phobos" — perisai yang menebar ketakutan begitu diangkat. Achilles dalam Ilias memegang perisai semacam itu. Mereka tidak besar; mereka tidak punya domain luas. Tetapi tanpa Phobos & Deimos, perang tak punya pasukan-yang-melarikan-diri — dan perang tanpa pengkhianatan akan terlalu berimbang untuk berakhir.

Empat Roh Lainnya

Tidak semua tokoh demonologi Yunani-Romawi punya ikonografi yang bertahan. Empat berikut hadir dalam teks-teks Hesiodos, Aristophanes, dan Plutarchus — tetapi tidak (atau jarang) ditampilkan dalam seni visual. Identitas mereka berasal sepenuhnya dari kata.

Sumber primer: Hesiodos, Theogonia & Erga kai Hēmerai; Aischylos, Oresteia; Aristophanes, Ranae & Ekklēsiazousai; Diodorus Siculus, Bibliotheca; Pausanias, Hellados Periēgēsis; Vergilius, Aeneis. Tinjauan modern: W. Burkert, Greek Religion, Harvard 1985; D. Felton, Haunted Greece & Rome, 1999.