I · Λάμια / Lamia
Lamia
Mater Liberorum Edentium — Pencuri & Pemakan Anak
"παῖδας ἥρπαζεν καὶ κατήσθιεν" — "Ia menculik anak-anak dan memakan mereka." (Diodorus Siculus, Bibliotheca Historica XX.41)
- Asal
- Ratu Libya yang dicintai Zeus. Hera, cemburu, membunuh anak-anaknya satu per satu. Lamia, gila karena duka, mulai menculik dan memakan anak-anak orang lain — dan akhirnya berubah menjadi monster.
- Wujud
- Bertubuh perempuan dari pinggang ke atas, tetapi berakhir di tubuh ular dari pinggang ke bawah. Dapat melepaskan matanya untuk tidur (Zeus mengizinkannya karena duka), kemudian memasangnya kembali. Dapat berubah-rupa.
- Domain
- Menculik bayi dan anak kecil di malam hari. Beberapa tradisi: menyusu darah laki-laki muda yang dikecewakan dalam cinta. Bersemayam di gua-gua Libya.
- Padanan
- Latin: lamia (jamak: lamiae) — Horatius menggunakan kata ini dalam Ars Poetica sebagai contoh makhluk-tak-mungkin yang seharusnya tidak dimasukkan dalam puisi. Yahudi: paralel dengan Lilith — keduanya perempuan yang kehilangan anak dan menjadi pencuri bayi.
Lamia adalah salah satu monster Yunani dengan kisah asal yang manusiawi — bukan kelahiran-kosmik atau ciptaan Tartarus, melainkan pengkhianatan dan duka yang membuat seorang manusia kehilangan kemanusiaannya. Ia adalah tragedi yang menjadi monster. Dalam abad ke-19, John Keats menyimpan kembali narasinya dalam puisi Lamia (1819), kemudian Pre-Raphaelite seperti Waterhouse dan Draper menjadikannya subjek lukisan yang ambigu: pencinta atau pemangsa? Dalam lukisan Waterhouse (sebelah), Lamia tampil sebagai perempuan cantik yang sedang menyerap ksatria — moment sebelum sang ksatria menyadari ia bukan manusia. Waterhouse tahu bahwa monster yang paling efektif bukan yang berwujud menakutkan, tetapi yang tampak seperti kita. Filsuf abad-21 Mark Fisher menyebut ini "the eerie" — yang menyeramkan bukan karena asing, tetapi karena nyaris-tetapi-bukan seperti yang kita kenal.