Reditum

Pars Tricesima Tertia · Liber XXXIII · Ainoica

Ainoica

アイヌモシㇼ · Hokkaido · Sakhalin · Chishima

Bangsa-pribumi Jepang utara, dengan tradisi-kosmologi yang sangat-berbeda dari mayoritas-Yamato. Bahasa-Ainu adalah language-isolate (atau Japonic cabang-terpisah, debated). Kosmologi: setiap-objek-dan-fenomena adalah kamuy (神, "yang-dihormati") — gunung, sungai, burung, beruang, api, bahkan-perkakas. Tidak ada-pembedaan-keras dewa/iblis seperti di Abrahamic; ada good-kamuy dan wen-kamuy ("kamuy-jahat"). Ritus paling-iconic: iyomante — beruang-anak dipelihara satu-tahun, lalu dikorbankan-ritual untuk "mengirim-pulang" rohnya ke-dunia-kamuy. Kontak-Jepang dimulai abad XV; misionerisasi Meiji abad XIX memporak-poranda tradisi. Pengakuan-resmi pribumi-Ainu oleh-pemerintah Jepang baru terjadi 2019.

~XXVRibu Ainu modern
VEntitas dibahas
MMXIXPengakuan-resmi Jepang 2019
Descende
Upacara Omusha Ainu — Hirasawa Byōzan (1822-1876), c. 1875, koleksi National Museums Scotland; ritus-pertemuan dengan pendatang/penjamuan-roh yang dipakai komunitas-Ainu untuk berdialog & meredakan kamuy-jahat termasuk wabah-penyakit
Omusha — ritus-Ainu untuk meredakan kamuy-jahat, Hirasawa Byōzan (~1875)

§ Ainu · pra-modern hingga folklor-hidup

Pauchi-kamuy

パウチカムイ — Roh Wabah, Pemilik Epidemi-Cacar & Demam

"Pauchi ainu mosir ta ek ki" — "Pauchi datang ke-tanah-manusia." Frase-yang-diucapkan saat-wabah-mulai di-desa-Ainu.
Karakteristik
Pauchi-kamuy adalah wen-kamuy (kamuy-jahat) yang membawa wabah-penyakit, terutama cacar-air (smallpox), campak, dan demam-tinggi. Bukan-iblis-personal dalam pengertian-Abrahamic — ia adalah kamuy yang menempati-kategori-roh, bisa ada-banyak Pauchi sekaligus. Wujud: tidak-jelas, tapi sering-dipikirkan sebagai-kabut-merah atau-asap-yang menempel pada-orang-sakit.
Ritus-perlindungan
Untuk-mengusir Pauchi: chasi-uk ritus di-perbatasan-desa. Inau (tongkat-suci-bersirat dengan-tahi-kayu) ditancapkan di-empat-sudut-desa untuk-menahan-Pauchi-masuk. Jika sudah-masuk: tusu (shaman-perempuan Ainu) memimpin upacara-pengusiran dengan-nyanyian upopo.
Historis-tragis
Epidemi-cacar Hokkaido abad-XVIII-XIX (dibawa oleh-pemukim-Jepang Yamato) menghantam-populasi-Ainu sangat-keras — beberapa-perkiraan mengatakan 30-50% populasi-Ainu mati selama epidemi 1808 dan 1826. Pauchi-kamuy menjadi etiologi-folklorik untuk-tragedi-historis-real. Inilah-pola yang muncul di-banyak tradisi-pribumi di-seluruh-dunia: setelah-kontak-dengan-penjajah, wabah-baru muncul, dan-folklor-religi mengembangkan-roh-baru untuk-menjelaskan-malapetaka yang-tidak-pernah-ada-sebelumnya. Konsep paralel: Wendigo (wabah-musim-dingin), post-contact spirits Afrika.

Pauchi-kamuy adalah-contoh-terbaik dari demonologi-sebagai-respon-trauma-kolonial. Sebelum-kontak-Yamato intensif, Ainu menderita-penyakit-lokal tetapi tidak-cacar-skala-besar; cacar-air dibawa-bersama-pemukim-Jepang sejak Edo-period. Ketika-populasi-Ainu hancur oleh-cacar yang-tidak-mereka-punya-imunitas, folklor-Ainu merespons dengan-mengembangkan kategori-Pauchi-kamuy yang-tidak-pernah-ada-sebelumnya secara-bentuk-tersebut. Ini bukan-deskripsi-iblis-yang-sudah-ada melainkan penciptaan-baru kategori-religi untuk-merespons-realitas-baru. Pelajaran-umum: demonologi-pribumi sering-mengandung lapisan-pasca-kontak yang dapat-dikenali oleh-tanggal-asal-wabah dan-pola-spesifik. Studi: Emiko Ohnuki-Tierney *Illness and Healing among the Sakhalin Ainu* (Cambridge 1981) — etnografi-klasik tentang konstruksi-religius-penyakit di-antara-Ainu; Brett Walker *The Conquest of Ainu Lands* (California 2001) untuk konteks-kolonial.

Empat Kamuy Lain

Mintuci (kerabat-kappa air), Oyash (roh-langit ambivalent), Pa Koro Kamuy (pemilik-desa), Nitne-kamuy (pohon-jahat). Plus catatan: Kamuy-fuchi adalah-dewi-perapian, BUKAN iblis.

Sumber: John Batchelor, The Ainu and Their Folk-lore (1901, etnografi-klasik kolonial-misionaris — perlu dibaca-dengan-kritis); Neil Gordon Munro, Ainu Creed and Cult (Kegan Paul 1962, terbit-anumerta); Emiko Ohnuki-Tierney, Illness and Healing among the Sakhalin Ainu (Cambridge 1981); Brett L. Walker, The Conquest of Ainu Lands: Ecology and Culture in Japanese Expansion, 1590-1800 (California 2001); Hugh M. de Ferranti, The Last Biwa Singer (Cornell 2009) untuk konteks musik-religi.