§ Pars I — Bali
Rangda
Ratu Janda — Pemimpin Para Leak, Lawan Kosmik Barong
"Rangda ngāgni" — "Rangda yang menyala/membakar" (Bahasa Bali kuno).
- Etimologi
- Bahasa Bali: rangda = "janda". Mungkin terkait Kawi (Jawa Kuno) rangdâ = "perempuan-yang-ditinggal-suami". Nama-personal: Calon Arang dalam Kakawin Calon Arang abad XII Jawa.
- Wujud
- Topeng kayu legendaris dengan: rambut putih panjang acak-acakan, lidah panjang menjulur (seringkali api), mata melotot besar, taring sangat panjang, dada terbuka dengan payudara menggantung, cakar panjang. Mengenakan kain putih kotor. Kategori topeng paling sakral dalam tradisi Bali — banyak topeng Rangda yang otentik (topeng tenget) tidak boleh dipotret atau disentuh sembarangan.
- Dualisme
- Antagonis abadi Barong (singa pelindung). Setiap pertunjukan tari Barong-Rangda di Bali adalah re-enactment dari pertarungan kosmik mereka — yang tidak ada yang menang. Pertunjukan berakhir dengan kris-trance (penari laki-laki yang menikam diri tetapi tidak terluka karena dilindungi Barong). Logika: kekacauan dan ketertiban selalu berimbang.
- Calon Arang
- Asal-usul: Calon Arang, janda dari desa Girah di kerajaan Daha (Jawa Timur, abad XII). Karena tidak ada yang mau menikahi putrinya, ia memanggil ilmu hitam, mengajar pengikut perempuan ("para leak") di hutan, lalu mengirim wabah ke seluruh kerajaan. Raja Erlangga akhirnya mengalahkan ilmunya dengan bantuan resi Mpu Bharadah. Versi Bali: ia menjadi Rangda yang terus hidup di hutan sakral.
Rangda adalah salah satu sosok demonologis paling kompleks di Indonesia karena statusnya yang sangat sakral. Berbeda dari Pocong atau Kuntilanak yang adalah tokoh-tokoh folklor rakyat, Rangda adalah aspek-religius yang dipuja di pura-pura Bali tertentu. Beberapa topeng Rangda yang paling tua — misalnya yang disimpan di Pura Dalem Penataran Ped di Nusa Penida — dianggap tubuh aktif dari Rangda sendiri, bukan hanya artefak. Penari yang mengenakannya harus melalui upacara pemurnian panjang. Selama pertunjukan, penari berada dalam keadaan kerauhan (kerasukan-sakral) — bukan akting, melainkan tubuh-Rangda menari melalui tubuh manusia. Filsuf antropologi Margaret Mead dan Gregory Bateson (yang memfilmkan Trance and Dance in Bali 1952) menganalisis pertunjukan Rangda-Barong sebagai ritus regulasi-sosial: cara komunitas Bali memproses dan menormalisasi kekuatan-yang-merusak. Bukan dengan mengusir, melainkan dengan memberikan tempat ritual bagi Rangda untuk muncul, menari, lalu pergi. Inilah teologi yang tidak ada di tradisi Abrahamic: kekacauan tidak harus dimusnahkan; ia harus dikoreografi.