I · Zulu / Xhosa
Tikoloshe
"Yang Pendek" — Setan-Kerdil dari Air, Dipelihara oleh Sangoma untuk Membahayakan Musuh
"uTikoloshe uyabazwana nezangoma" — "Tikoloshe bekerja sama dengan para sangoma (dukun)" — pepatah Zulu.
- Etimologi
- isiZulu: uthikoloshe; isiXhosa: uthikoloshe; Afrikaans: tokkelos. Akar mungkin terkait dengan kata likhubalo — "ramuan magis-jahat". Bukan kata-meminjam dari Eropa atau Arab.
- Wujud
- Sosok kerdil (~60 cm), kulit berbulu lebat, kepala besar, telinga panjang, taring keluar, mata cekung. Beberapa cerita: penis sangat besar (tidak proporsional). Tinggal di sungai dan kolam. Pada malam hari, ia dapat menjadi tidak-terlihat — dengan menggosok pasir di matanya, atau dengan menelan batu khusus.
- Domain
- Dapat dipelihara oleh sangoma (dukun-traditional) sebagai familiar untuk: (a) menyiksa musuh, (b) mencuri ternak dari tetangga, (c) melecehkan korban di tempat tidur — tikoloshe penjepit dada (sleep paralysis Zulu) adalah variant lokal dari Phi Am Thailand atau Old Hag Eropa.
- Pertahanan
- Tradisi Zulu & Xhosa: tinggikan tempat tidur dengan batu-bata agar tikoloshe tidak bisa melompat. Karena tinggi mereka ~60 cm, tempat tidur yang ditinggikan ke ~90 cm aman. Hingga abad ke-21, banyak rumah township Afrika Selatan masih menyusun tempat tidur dengan tumpukan bata di setiap kaki — sebagai precaution.
Tikoloshe adalah salah satu makhluk demonologi paling aktif-dalam-kehidupan-modern dalam Codex ini. Berbeda dari banyak iblis tradisional yang sebagian besar tinggal dalam buku, tikoloshe masih dipercaya secara luas di Afrika Selatan, Lesotho, Swaziland, dan Zimbabwe — di kalangan kelas menengah dan kelas pekerja, urban dan pedesaan. Pengadilan-pengadilan Afrika Selatan abad XX-XXI mencatat ratusan kasus di mana tertuduh menyatakan bahwa korban (atau musuh-keluarga) menggunakan tikoloshe sebagai senjata-mistis — argumen yang kadang diterima oleh juri lokal. Citra di sebelah adalah headline koran modern tentang dugaan serangan tikoloshe — bukti bahwa kepercayaan ini bukan masa-lalu, melainkan sangat hidup. Antropolog seperti Adam Ashforth (Witchcraft, Violence, and Democracy in South Africa, 2005) berargumen bahwa kepercayaan terhadap tikoloshe — dan praktik ritual-perlindungan yang menyertainya — adalah bagian dari respons komunitas terhadap ketidakadilan sosial dan ketidakpastian ekonomi. Ketika sistem hukum formal tampak gagal, kategori-kategori mistis seperti tikoloshe menjadi cara menjelaskan kemalangan yang tampaknya tidak adil. Dia bukan superstisi-yang-tertinggal — dia adalah cara memahami dunia yang masih operasional dalam jutaan kehidupan.