Reditum

Pars Tertia Decima · Liber XIII

Africa

Folklor Sub-Sahara — Khoisan · Bantu · Akan · Ewe

Afrika adalah tempat manusia pertama — tradisi-tradisinya seharusnya yang tertua. Tetapi karena tradisi oral mendominasi dan dokumentasi tertulis sebagian besar baru dimulai di abad XIX (umumnya oleh etnografer kolonial Eropa), katalog akademis demonologi Afrika jauh lebih ramping dari yang seharusnya. Delapan entitas di bawah hanyalah sketsa pengantar — mewakili Khoikhoi (Afrika Selatan), Ewe (Ghana-Togo), Akan (Ghana), Zulu/Xhosa (Afrika Selatan), dan Afrikaans (kolonial Afrika Selatan). Jutaan nama lain tetap dalam tradisi lisan, belum tertulis.

VIIIEntitas tercatat
VBahasa-rumpun
?Yang belum tercatat
Descende
Tikoloshe — newspaper headline
Tikoloshe dalam berita modern — Afrika Selatan

I · Zulu / Xhosa

Tikoloshe

"Yang Pendek" — Setan-Kerdil dari Air, Dipelihara oleh Sangoma untuk Membahayakan Musuh

"uTikoloshe uyabazwana nezangoma" — "Tikoloshe bekerja sama dengan para sangoma (dukun)" — pepatah Zulu.
Etimologi
isiZulu: uthikoloshe; isiXhosa: uthikoloshe; Afrikaans: tokkelos. Akar mungkin terkait dengan kata likhubalo — "ramuan magis-jahat". Bukan kata-meminjam dari Eropa atau Arab.
Wujud
Sosok kerdil (~60 cm), kulit berbulu lebat, kepala besar, telinga panjang, taring keluar, mata cekung. Beberapa cerita: penis sangat besar (tidak proporsional). Tinggal di sungai dan kolam. Pada malam hari, ia dapat menjadi tidak-terlihat — dengan menggosok pasir di matanya, atau dengan menelan batu khusus.
Domain
Dapat dipelihara oleh sangoma (dukun-traditional) sebagai familiar untuk: (a) menyiksa musuh, (b) mencuri ternak dari tetangga, (c) melecehkan korban di tempat tidur — tikoloshe penjepit dada (sleep paralysis Zulu) adalah variant lokal dari Phi Am Thailand atau Old Hag Eropa.
Pertahanan
Tradisi Zulu & Xhosa: tinggikan tempat tidur dengan batu-bata agar tikoloshe tidak bisa melompat. Karena tinggi mereka ~60 cm, tempat tidur yang ditinggikan ke ~90 cm aman. Hingga abad ke-21, banyak rumah township Afrika Selatan masih menyusun tempat tidur dengan tumpukan bata di setiap kaki — sebagai precaution.

Tikoloshe adalah salah satu makhluk demonologi paling aktif-dalam-kehidupan-modern dalam Codex ini. Berbeda dari banyak iblis tradisional yang sebagian besar tinggal dalam buku, tikoloshe masih dipercaya secara luas di Afrika Selatan, Lesotho, Swaziland, dan Zimbabwe — di kalangan kelas menengah dan kelas pekerja, urban dan pedesaan. Pengadilan-pengadilan Afrika Selatan abad XX-XXI mencatat ratusan kasus di mana tertuduh menyatakan bahwa korban (atau musuh-keluarga) menggunakan tikoloshe sebagai senjata-mistis — argumen yang kadang diterima oleh juri lokal. Citra di sebelah adalah headline koran modern tentang dugaan serangan tikoloshe — bukti bahwa kepercayaan ini bukan masa-lalu, melainkan sangat hidup. Antropolog seperti Adam Ashforth (Witchcraft, Violence, and Democracy in South Africa, 2005) berargumen bahwa kepercayaan terhadap tikoloshe — dan praktik ritual-perlindungan yang menyertainya — adalah bagian dari respons komunitas terhadap ketidakadilan sosial dan ketidakpastian ekonomi. Ketika sistem hukum formal tampak gagal, kategori-kategori mistis seperti tikoloshe menjadi cara menjelaskan kemalangan yang tampaknya tidak adil. Dia bukan superstisi-yang-tertinggal — dia adalah cara memahami dunia yang masih operasional dalam jutaan kehidupan.

Tujuh Entitas Afrika Lainnya

Dari Khoikhoi di Namibia hingga Ewe di Ghana, dari Akan di Pantai Emas hingga Afrikaans di Cape — berikut tujuh kategori demon yang paling sering disebut dalam etnografi sub-Sahara abad XIX-XX. Banyak yang memiliki visualisasi terbatas karena tradisi lisan tetap dominan.

Sumber: R. S. Rattray, Religion and Art in Ashanti (Oxford, 1927); Henry Callaway, The Religious System of the Amazulu (1868); James George Frazer (Sir), The Golden Bough (1890) — bab Afrika; Adam Ashforth, Witchcraft, Violence, and Democracy in South Africa (Univ. of Chicago Press, 2005); Isaac Schapera, The Khoisan Peoples of South Africa (1930). Modern: Stephen Friedlander, The Tokoloshe: Reflections on a South African Folk Demon; Eva-Maria Bruchhaus (ed.), Energy and Conflict in Africa.