Reditum

Pars Vicesima Septima · Liber XXVII · Africa Subsaharica

Subsaharica

Bantu · Swahili · Malagasy · Fon · Akan

Pelengkap untuk Liber XIII yang awalnya hanya sketsa-pengantar 8 entitas. Sub-Sahara berisi ribuan tradisi-lokal yang masing-masing layak Liber-tersendiri; di sini kami menyusun delapan tambahan yang penting: tiga dari Bantu (Mbwiri Gabon, Ilomba Zambia, Mokele-mbembe Kongo), dua dari Madagaskar (Kalanoro, Lolo), satu Dahomey (Aziza), satu pan-Afrika (Mami Wata), dan dua dari pantai Swahili (Popobawa Zanzibar, Jini Swahili). Lembar ini bukan lengkap; ia adalah catatan-pendalaman atas yang dibukai dahulu di Liber XIII.

VIIIEntitas dibahas
IVRumpun-bahasa berbeda
MCMXCVPopobawa-panik 1995
Descende
Mami Wata — poster-chromolithograph snake-charmer terinspirasi performer Maladamatjaute (Nala Damajanti), dicetak Adolph Friedlander Hamburg pada 1880-an, ikon yang membentuk visualisasi Mami Wata pan-Afrika
Mami Wata — chromolithograph Adolph Friedlander, Hamburg 1880-an

§ Pan-Afrika · Atlantik & pantai Indian-Ocean

Mami Wata

"Ibu-Air" — Dewi Pan-Afrika, Bukan Iblis (catatan)

"Mami Wata gives wealth, but takes what you love most." — Pepatah Pidgin-English Nigeria modern, mencerminkan struktur-pertukaran khas Mami Wata.
Etimologi & sebaran
Pidgin-English "Mami Wata" = "Mommy Water/Mother Water". Nama-pan-Afrika, juga dikenal sebagai Yemoja dalam Yoruba, Olokun di Edo, Tingo di Vai. Dipuja dari Senegal sampai Mozambik di pantai-Atlantik dan Indian-Ocean.
Catatan kategorial
Mami Wata adalah dewi, bukan iblis — sejajar dengan kasus Eshu. Dia dimasukkan ke Codex Daemonum ini hanya karena literatur-populer-Barat sering menyebutnya "demon" ketika membahas legenda-pertukaran-kekayaan-untuk-kesetiaan. Dalam ontologi-aslinya, ia adalah dewi-perairan yang sah dan dihormati. Mami Wata muncul sebagai cabang dari kultus-Mami-Wata yang berkembang abad XX (terutama dengan diaspora-buruh-pelaut Afrika berhubungan dengan pelaut Eropa) tetapi dengan akar yang lebih tua.
Ikonografi
Perempuan-cantik dengan kulit-cerah (sering digambarkan Eropa-mestizo dalam ikonografi populer abad XX, mencerminkan kontak transatlantik), ekor-ikan, ular-besar (sering ular-air) melingkari tubuhnya, cermin atau sisir-emas di tangan. Citra ikonografi-populer terinspirasi sebagian oleh poster sirkus-Jerman abad XIX "Schlangenbändigerin" — citra yang dibawa pelaut ke Afrika Barat dan diadopsi sebagai-citra-Mami-Wata.
Hubungan-tukar
Pengikut Mami Wata menerima kekayaan, keberuntungan-bisnis, dan keberhasilan-asmara — dengan harga: kesetiaan-eksklusif (pengikut tidak boleh menikah-manusia tanpa-restu), atau pengambilan-orang-yang-dicintai. Inilah mengapa literatur-populer salah-mengategorinya sebagai iblis. Tetapi perjanjian dengan dewi-air berbeda secara teologis dari kontrak-Faustian: ia adalah cinta-eksklusif, bukan perdagangan-jiwa.

Mami Wata adalah salah satu fenomena religi paling-menarik abad XX-XXI di Afrika: dewi-yang-menyatukan tradisi-tradisi-lokal yang sebelumnya terpisah menjadi satu-figur pan-Afrika. Yang membantu penyatuan: (a) migrasi-pekerja antar-negara Afrika modern membawa konsep dari tempat-ke-tempat; (b) citra-pop yang dapat-direproduksi (kalender, lukisan, lemari-altar); (c) diaspora-Afrika di Karibia (Mami Wata di Haiti adalah loa-Lasirenn) yang membawa kembali ke Afrika versi yang lebih kosmopolitan. Henry Drewal (etnografi-utama) memetakan persebaran modern Mami Wata sebagai contoh-paradigmatis transafrikanisme religius. Lembar ini menyertakannya sebagai koreksi terhadap label-"demon" yang sering muncul di sumber-Barat ketika menjelaskan struktur-tukar-kekayaan-nya — yang sebenarnya adalah jenis-kontrak-cinta-dewi, bukan iblis-Faustian.

Tujuh Lainnya

Bantu (Mbwiri, Ilomba, Mokele-mbembe), Madagaskar (Kalanoro, Lolo), Dahomey (Aziza), Swahili (Popobawa, Jini).

Sumber: Henry Drewal, Mami Wata: Arts for Water Spirits in Africa and Its Diasporas (UCLA 2008); James Fernandez, Bwiti (Princeton 1982); David Parkin, Sacred Void (Cambridge 1991) untuk Swahili; Maurice Bloch, Placing the Dead (London 1971) untuk famadihana Madagaskar; Martin Walsh, "The Devil and the Dilemmas of Modernity" (Anthropology Today 2009) untuk Popobawa.