§ Thelema · Crowley 1909 · masih dipraktekkan
Choronzon
The Demon of Dispersion — Penjaga Jurang Da'ath di Pohon Kehidupan Kabbalistik
"Zazas, Zazas, Nasatanada Zazas." — Mantra-pemanggilan Choronzon yang dipakai Crowley di Bou-Sa'âda, Algeria, 1909. Bahasa-tidak-dapat-diterjemahkan dari The Vision and the Voice.
- Asal-usul
- Choronzon tidak murni-modern: pertama-disebutkan dalam catatan-Enochian John Dee & Edward Kelley (1583) sebagai-"Choronzon" — kata Enochian yang berarti "yang-mendispersi". Tetapi kanon-modern-nya dibuat oleh Aleister Crowley dalam Liber CCCCXVIII: The Vision and the Voice (1909) di mana ia mendokumentasikan pemanggilan-yang-langsung di gurun Algeria. Crowley dan asisten Victor Neuburg memasuki "Aethyrs" Enochian; di Aethyr-10 ("ZAX") mereka menghadapi Choronzon yang mencoba menerobos lingkaran-pelindung.
- Karakter
- "The Demon of Dispersion" — iblis yang menentang-pembentukan koherensi. Dalam kerangka-Thelema, Choronzon menjaga Da'ath (jurang-mistik di antara sephirot-supernal dan sephirot-bawah dalam Pohon-Kehidupan Kabbalistik). Untuk-mencapai gnosis-tertinggi, seorang adept harus melewati jurang ini — dan menghadapi Choronzon adalah-ujian-final.
- Strategi-Crowley
- Crowley mengakui Choronzon dengan-strategi-paradoks: memberinya nama, mengakui keberadaannya, dan tetap-lulus jurang. Ini bukan-pengusiran-eksorsisme melainkan-pengintegrasian-tantric. Dalam catatan-mistiknya, Crowley menggambarkan menjadi-tidak-lagi-takut, dan justru itulah yang melewati-Choronzon. Penafsiran-psikologis modern (terutama Lon Milo DuQuette, The Magick of Aleister Crowley): Choronzon adalah ego-yang-defensif, dan "melewati" berarti tidak-membiarkan-ego mendiktatori-pengalaman-mistik.
- 333
- Nomor-Choronzon adalah 333, setengah dari 666 (yang adalah nomor-Sun-Tiphereth dalam Thelema, bukan-jahat). 333 = "yang-terbagi", dispersi. Bandingkan dengan "999" yang adalah integrasi-kosmik tertinggi. Tiga-set-angka membentuk sistem-koherensi-Thelema.
Choronzon adalah salah-satu-figur paling-jelas tentang bagaimana okultisme-modern berbeda dari grimoire-tradisional. Dalam Goetia abad-pertengahan, iblis dipanggil untuk-melayani-pemanggil (memberi-kekayaan, pengetahuan, dll). Dalam Thelema, Choronzon dipanggil untuk-membongkar-pemanggil — menghancurkan ilusi-ego sehingga gnosis-tinggi tersedia. Inilah pembalikan-fungsi: iblis sebagai-katalis-pertumbuhan-spiritual, bukan-musuh-eksternal. Crowley menulis "Choronzon is the spectre of the I that hates the Self" — iblis-yang-aktif-dalam-pikiran-praktisi. Pembacaan-psikologis ini (yang juga sangat-mempengaruhi Jungian shadow dan Chaos Magick) menjadi standar okultisme-modern: iblis adalah cermin. Crowley sendiri klaim bahwa selama pemanggilan-1909, Choronzon merasuki-Neuburg secara-sementara dan-mencoba-membunuh-Crowley dengan-pisau-batu — anekdot yang masih-dibahas. Apa-yang-nyata? Ambivalent. Itu sendiri adalah poin metodologis okultisme-modern.