§ Tibet · mitos-pendiri abad VII-VIII
Srinmo
སྲིན་མོ — Demoness-yang-Membentang, Tubuh Tibet Sendiri
"Tibet adalah tubuh-Srinmo yang dibaringkan." — Mitos-pendiri terdokumentasi dalam Mani Kabum abad XII, mengambil tradisi-lisan abad VII.
- Mitos
- Sebelum Buddhism masuk Tibet, dataran tinggi itu adalah tubuh seorang demoness raksasa terlentang — Srinmo. Raja-Dharma pertama Songtsen Gampo (~617-650 M), dengan saran istrinya Putri Wencheng dari Tang Tiongkok, memakukan tubuh-Srinmo dengan membangun dua belas kuil-Buddha di titik-titik energi-chakra tubuhnya. Kuil-pusat di Lhasa — Jokhang — dibangun di atas dada-jantung Srinmo. Kuil-luar di empat-perbatasan-pegunungan: di kaki, tangan, dan kepala. Dengan pemakuan ini, tanah Tibet menjadi-tenang dan Buddhism bisa-tumbuh.
- Interpretasi
- Mitos ini dapat dibaca beberapa-lapis: (a) historis — pemakuan-Buddhism atas religi-pra-Buddha (Bön) yang masih hidup di pinggiran; (b) gender — kolonisasi-Buddha atas "yang-perempuan-liar" (Janet Gyatso 1989 mempelajari secara feminis); (c) tantric — alam yang dikodekan sebagai-tubuh, dan Tibet sebagai mandala-yang-hidup. Catatan: Srinmo terus-disetel oleh kuil-kuil. Jika kuil rusak atau ritus berhenti, ia akan bangkit kembali.
- Sub-kategori
- Srin (singular, maskulin) dan Srinmo (feminin) adalah kelas-roh berdarah-haus yang lebih besar — kerabat dengan Sanskerta Rakṣasa/Rakṣasī. Tibet mempertahankan kategori-ini dari Sanskrit, tetapi memberinya peran-kosmologis-baru sebagai landscape sendiri.
Mitos Srinmo adalah salah satu yang paling kuat dalam demonologi-komparatif karena ia menjawab pertanyaan: apa yang terjadi pada religi-pra-Buddha? Banyak konversi-Buddhism di Asia menghapus tradisi-lokal (Burma, Sri Lanka). Tibet melakukan sesuatu yang berbeda — memetakan ulang tradisi-lokal sebagai-lapisan-bawah Dharma. Bön tidak diberangus; ia diintegrasikan sebagai-substrate. Srinmo bukan iblis-yang-diusir, melainkan tubuh-yang-dipakai. Kuil-kuil Jokhang dan dua-belas lainnya berdiri di atas dia — bukan menggantinya. Setiap doa-Buddhist yang dibacakan di Lhasa memakukan ulang Srinmo. Inilah teologi-Vajrayana dalam praktik: upāya (skillful means) — kebenaran-tertinggi tidak menghapus-kebodohan, ia memasukkannya ke dalam-pola-yang-lebih-besar. Pelajaran umum tentang demonologi: tradisi-besar tidak selalu menang dengan mengusir, kadang dengan memasukkan-dan-mengikat. Studi: Janet Gyatso, "Down with the Demoness" (1989); Robert Beer, The Handbook of Tibetan Buddhist Symbols (Serindia 2003); David Snellgrove, Indo-Tibetan Buddhism (1987).